Loading...

Pengakuan Ketua KPU Arief Budiman: "Hati Kecil Saya Menangis..."



 Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman juga manusia yang bisa menangis; bisa terpukul. Pengakuan itu dilontarkannya dalam sebuah diskusi publik bertajuk "Silent Killer Pemilu Serentak" di Jakarta, Sabtu (27/4/2019).

"Jujur saya menangis dalam hati," kata Arief Budiman.

Mengapa sampai seorang Ketua KPU menangis?

Ada dua hal yang membuat dirinya terpukul. Pertama, banyaknya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia. Hingga Kamis (25/4/2019) malam tercatat sudah 225 petugas KPPS yang meninggal dunia. Kini bahkan jumlahnya sudah mencapai 230 orang.

Kedua, ada sejumlah pihak yang menuding KPU berlaku tidak manusiawi dalam menerapkan pola kerjanya. Bahkan, dituding melakukan kecurangan dalam Pemilu Serentak 2019 terutama Pilpres.

Arief gundah-gulana. Ia mengaku dirinya menangis dalam hati mendengar segala tudingan tersebut. "KPU (sudah) usulkan, ini kerja panjang, ini kerja besar, harus ada asuransinya, tapi ditolak. Ini KPPS kerja berat, bebannya jauh lebih berat daripada pemilu 2014. Kami usulkan honornya ditambah, tapi ditolak. Jadi miris. Hati kecil saya menangis, tapi kan nggak perlu diperlihatkan," tuturnya.

Terkait tumbangnya 230 orang petugas KPPS hingga kemarin, dikatakan Arief, jangan serta merta seluruh kesalahan dilimpahakan ke KPU. Sebab KPU, katanya, telah mengantisipasi akibat yang akan terjadi, lantaran beban pekerjaan yang akan dilakukan oleh para KPPS begitu berat.

"Apakah KPU tidak lakukan sesuatu? Sudah, kita sudah antisipasi ini sejak awal. UU pemilu katakan pemilih 500 (orang) per TPS, tapi KPU lakukan simulasi ternyata bekerja overtime, makanya dikurangi jadi 300 (pemilih per TPS)," dia menjelaskan.

Lebih lanjut, Arief juga menilai kalau Desain Pemilu 2019 jauh berbeda dari desain pemilu 2014. Sejumlah pemilihan kepemimpinan di berbagai tingkatan digabung dalam satu waktu. Namun, mekanisme dan pola kerja untuk seluruh penyelenggara di berbagai tingkatan telah diatur dalam Undang-Undang, Peraturan KPU dan keputusan Mahkamah Konstitusi.

Sehingga menurut Arief, seperti petugas KPPS, sudah memiliki pola kerja yang jelas. Terkait banyak petugas yang tumbang, Arief menyimpulkan hal itu dikarenakan semangat kerja petugas yang demikian besar terhadap pemilu kali ini.

"Supaya nggak ada perdebatan hukum ditambah 12 jam. Artinya sampai jam 12 siang di hari berikutnya itu boleh diselesaikan (proses hitung suara). Maka KPU perintahkan ke petugas di lapangan silakan atur ritmenya, misalnya jam 6 (pagi) persiapan TPS, jam 7 (pagi) dibuka, jam 13 (siang) ditutup, silakan istirahat, silakan atur iramanya," ucap Arief.

"Tapi situasi di lapangan kadang nggak memungkinkan lakukan hal-hal seperti itu. Kadang-kadang semangatnya (petugas). Yaudah segera kita selesaikan. Ya itu sampai kemudian oleh ahli kesehatan (dikatakan) ini kerja yang tidak normal, tidak wajar. Artinya lampaui kapasitas kemampuan. Sampai ada yang tensinya naik, kepalanya pusing, padahal ini berbahaya," dia menambahkan.

Lepas dari itu Arief Budiman juga adalah manusia yang hatinya bisa teriris dan menangis. Apalagi sampai dituding berbuat curang. Sudah setengah mati bekerja tetapi masih dicap seperti itu. Hanya air mata yang bisa mengalir.



sumber
Loading...
[ Close]
[ Close]