Loading...

Dijodohkan dengan Wanita Bercadar, Malam Pertama Pria Ini Syok, Ternyata Istrinya


Kesibukan bekerja membuat Arman tak sempat memikirkan hal hal romantis yang berkaitan dengan wanita. Keseriusannya mengejar karir agar orang tuanya hidup nyaman menjadikannya sebagai pria lajang yang tak tahu menahu tentang dunia yang berbau cinta.

Orang tua yang sudah ingin sekali menimang cucu, ingin Arman membawakan mereka menantu. Sayangnya, bagaimana mungkin hal itu terjadi? Arman tak memiliki teman dekat wanita seorang pun.

Alhasil, karena bosan terus menerus ditanya, dia serahkan urusan tersebut kepada kedua orang tuanya. Ya, dia minta dicarikan saja. Kalau bapak dan ibunya suka, maka dia juga akan menyukainya, begitu pikirnya.

"Wanita seperti apa yang kau inginkan?" tanya ayahnya suatu hari.

"Nggak usah macem-macem lah, Pa. Orangnya nutup aurat dan bisa mengaji," jawab Arman.

Ayahnya tersenyum mendengar keinginan anaknya. Demikian pula ibunya.

"Intinya, papa dan mama suka dan senang kepadanya," tambah Arman.

Usai percapakan itu, orang tua Arman tak pernah lagi menyinggung pernikahan. Sedang Arman kembali sibuk dengan dunia kerjanya.

Namun, setelah satu bulan berlalu, urusan itu dibahas lagi.

"Arman, kami telah menemukan seseorang yang siap untuk menjadi istrimu," ucap ayahnya via telepon. Kala itu, kebetulan Arman sedang ada keperluan di luar kota untuk beberapa minggu.

"Iya, Pa."

"Apa kau tak ingin melihat wajah calon istrimu dulu?"

"Kalau papa dan mama sudah sreg, Arman ikut saja."

"Jika demikian, kami akan mengatur semua kebutuhan pernikahannmu. Sepulang dari luar kota, kau akan langsung melakukan akad."

Arman menyetujui usul ayahnya. Toh, daripada dia juga masih repot dengan urusannya di luar kota. Entah kenapa, tak pernah terbetik di hatinya untuk melihat wajah calon istrinya. Hanya ada perasaan yakin, bahwa apa yang dipilih orang tuanya adalah yang terbaik.


Tibalah hari pernikahan Arman. Saat itu dia benar-benar syok, ternyata calon istrinya seorang wanita bercadar. Sungguh, hal ini diluar bayangannya. Tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya akan menemukan yang seperti ini.

Atas dasar apa orang tuanya menjodohkannya dengan wanita bercadar? Dia meminta yang bisa mengaji dan menutup aurat, tapi bukan yang seperti ini. Dan darimana pula orang tuanya bisa mendapatkan wanita seperti itu? Kapan mereka mengenalnya?

Memang dalam urusan agama, Arman tidaklah terlalu buruk. Dia masih menjaga shalat lima waktu dan bisa mengaji. Kadang, dia juga melakukan puasa senin kamis. Namun, menghadapi istri bercadar tak pernah ada dalam kamus hidupnya.

Entah kenapa, tiba-tiba timbul perasaan kesal pada kedua orang tuanya. Arman menyesal karena terlalu menggampangkan urusan ini pada mereka. Tapi ya sudahlah. Mungkin wanita seperti ini yang membuat ayah dan ibunya senang. Bukankah menyenangkan hati orang tua juga disebut berbakti pada mereka?

Akhirnya, pernikahan dilangsungkan. Pesta dihelat dengan meriah. Undangan berdatangan, memberi ucapan selamat dan mendoakan silih berganti. Hingga sampailah kemeriahan itu usai, dan Arman beserta istrinya telah di dalam kamar.

Malam pertama menjadi momen yang sangat bagi keduanya. Namun, kala itu Arman bingung harus memulai dari mana. Dia belum pernah berada sedekat ini dengan wanita.

"Ba .. bagaimana aku harus memanggilmu?" tanya Arman.

"Hanin..." jawab sang istri malu malu.

Setelah itu keadaan terasa beku. Tak seorang pun berani angkat bicara. Hanin yang masih tersipu di balik cadarnya tiba-tiba keluar.

Arman semakin salah tingkah. Apakah dia melakukan sesuatu yang tak disukai istrinya? Tapi, tanyanya terjawab beberapa saat kemudian. Ternyata, Hanin datang dengan segelas susu dan beberapa potong kue.

Arman sadar, bahwa apa yang dilakukan istrinya adalah salah satu sunnah Rasulullah di malan pertama. Dia lalu mulai memahami apa yang harus dilakukan.

Seharusnya, inilah saatnya Arman untuk melihat wajah asli sang istri. Dengan berdebar debar dia mendekatinya.

"Bolehkan aku melihat wajahmu?"

Hanin mengangguk dengan malu malu.

Ketika Arman menyentuh cadar itu dengan bergetar dan ingin menyingkapnya. Tiba sang istri menghentikan tangannya.

"Kita shalat sunnah dua rakaat dulu, Kak," pinta Hanin.

***

Malam pertama itu menjadi sangat berkesan bagi Arman. Bahkan dia cukup syok dengan segala seremonial yang dilakukan sang istri.

Dia tak menyangka di balik cadar Hanin, ada wajah yang sangat indah dan menawan. Wajah yang menenangkan hati saat dipandang. Menyejukkan mata saat dekat dengannya. Arman sangat mensyukurinya.

Rasa kesal yang semula pernah muncul di hatinya terhadap orang tuanya dia buang jauh jauh. Kini dia mengerti mengapa orang tuanya memilih Hanin untuknya.







sumber
Loading...
[ Close]
[ Close]